Seiring berkembangnya Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) informasi tersebar secara cepat dan tidak
terbatas. Setiap orang dengan mudah dapat berbagi informasi tentang peristiwa
di sekitarnya. Namun, tidak jarang informasi yang disebarkan diboncengi oleh
kepentingan pribadi maupun golongan. Akibatnya, banyak fenomena berita hoax
yang belum dapat dipercayai kebenarannya. Oleh karena itu pada pertemuan kelima
mata kuliah Filsafat Ilmu, Prof memberikan kuliah dengan tema perkembangan ilmu
pengetahuan dari waktu ke waktu. Hal ini dimaksudkan agar kami para mahasiswa
yang sedang terombang-ambing dalam mencari kebenaran sebuah ilmu dapat berbahasa
dengan bijak memilah dan memilih informasi. Lalu, bagaimanakah perkembangan
ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu?
Secara garis besar disampaikan
bahwa secara filosofis perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dari zaman awal,
zaman modern, zaman pos modern, dan zaman pos pos modern.
Zaman awal
Ilmu pengetahuan mulai berkembang
pada masa Socrates (± 470 – 400 SM), Plato (428-348 SM) dan Aristoteles
(384-322 SM). Pemikiran Socrates lebih banyak menjadikan manusia sebagai objek
filsafatnya. Socrates telah menurunkan filsafat dari langit dan menyebarkannya
kepada umat untuk kebaikan dunia. Oleh karena itu, Socrates jarang membicarakan
tentang alam, karena menurut hebatnya “ada” nya alam merupakan kuasa Tuhan.
Socrates menurunkan ajaran ini kepada Plato. Plato menerangkan bahwa manusia berada
dalam dua dunia yaitu dunia pengalaman (Empirisme) yang bersifat tidak tetap
(Relativisme) dan dunia ide (Idealisme) yang bersifat tetap (Absolutisme). Menurut
Plato, dunia yang sesungguhnya (Realisme) adalah dunia ide. Oleh sebab itu,
filsafat Plato dikenal sebagai Idealisme bahwa kenyataan adalah bayangan dari dunia
ide yang abadi.
Aristoletes sebagai murid Plato
sering menentang idealisme Plato. Dalam hematnya, “ide” bukan terletak pada
dunia abadi (Absolutisme) melainkan pada kenyataan benda-benda itu sendiri (Realisme).
Lebih jauh disebutkan bahwa ide yang abstrak tidak dapat dinyatakan tanpa
materi, sedangkan materi pasti diwujudkan dalam bentuk yang nyata (konkret).
Hasil pemikirannya yang logis memberikan sumbangsih yang banyak dalam
perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada abad pertengahan sekitar
12-13 M, muncul ajaran falsafi-teologis dari para Bapa Gereja. Ajaran ini ingin
memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari diri
manusia. Oleh karena itu mereka menganggap bahwa bumi adalah poros dari segala
kehidupan (Geosentrisme). Zaman ini sering dikenal sebagai zaman kegelapan. Pada
abad 14-15 M muncul seorang astronom bernama Nicolas Copernicus dari Polandia.
Astronom ini menemukan bahwa pusat dari peredaran segala benda langit adalah
matahari (Heliocentrisme). Temuan Coperninus ini bertentangan dengan otoritas
Gereja, akibatnya dia dihukum mati.
Zaman modern
Pada masa ini terjadi otoritas
kebenaran umat Kristen mengalami kehancuran. Lalu muncullah aliran rasionalisme,
empirisme, dan kritisme. Aliran Realisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M). Kaum rasionalis ini percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada
dalam pikiran, sehingga ilmu pengetahuan bersifat analitik apriori (sudah ada
sebelum diketahui). Pelopor aliran empirisme adalah David Hume (1711-1776). Hume
merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa ilmu pengetahuan diperoleh
(sintetik) dari indera setelah mengalami kejadian (posteriori). Terakhir, aliran
kritisisme di pelopori oleh Imanuel Kant (1724-1804). Immanuel Kant mencoba
untuk mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang betentangan
tersebut. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh dan
salah separuh. Menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan
manusia tentang dunia, yaitu sintetik apriori.
Zaman pos modern
Berkaitan dengan filosofi
penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme
yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia
dapat dibagi kedalam tiga tahap, yaitu: teologis, metafisis, dan positif-ilmiah.
Bagi era pos modern pengetahuan hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode
positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah apabila dapat
diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti (saintifik).
Pemikiran ini menyebabkan lahirnya fenomena Power Now yang menempatkan
kekuasaan Tuhan (absolut) di bawah kuasa positif-ilmiah manusia.
Zaman pos pos modern
Pada zaman pos pos modern Ilmu
pengetahuan adalah bahasa. Bahasamu mencerminkan dirimu, tulisanmu, pendapatmu,
pemikiranmu, sehingga sebenar-benar bahasamu adalah duniamu. Oleh karena itu, apabila
kamu ingin membangun dunia lebih baik maka mulailah dengan berbahasa yang benar,
jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Demikian, perkembangan ilmu
pengetahuan yang dimulai dari seorang guru Socrates kemudian berkembang dan
terus mengalami kemajuan hingga zaman pos pos modern. Bahwa ilmu pengetahuan
adalah bahasa yang mencerminkan dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar