Ikhlas, Ruang, dan Waktu
Oleh Vidiya
Rachmawati
Ilmu ikhlas menurut filsafat terbagi menjadi dua, yaitu ikhlas hati dan
ikhlas pikir. Orang dapat melakukan aktivitasnya dnegan baik jika dia mempunyai
ikhlas hati dan ikhlas pikir. Yaitu ketika logika dan perasaannya bisa saling
menerima. Sebagai contoh ikhlas dalam mengikuti kuliah, ikhlas dalam
mengerjakan tugas, ikhlas dalam menuntut ilmu, dan lain-lain. Dalam perkuliahan
jika hati tidak mau menerima, ilmu pun tidak akan masuk dan meresap ke dalam
otak. Dalam mengerjakan tugas, ketika hati tidak menolak mengerjakan maka tugas
itu mungkin akan jadi tapi tidak begitu memuaskan. Lain halnya dengan tugas
yang dikerjakan sepenuh hati, pasti hasilnya akan lebih baik. Dengan keihlasan
manusia dapat bersyukur dan menerima apa yang ia peroleh dengan lapang dada. Manusia
akan menyadari bahwa dirinya jauh dari sempurna dan kesempurnaan hanya milik
Allah swt. Dalam ketidaksempurnaannya itulah manusia menjadi hidup untuk
mendekati kesempurnaan.
Di dalam filsafat sesuatu bisa yang awalnya benar bisa menjadi salah dan
sebaliknya. Sebagai contoh 3x4=5000 hal ini tentu salah menurut ilmu
matematika, tetapi menjadi benar bagi seorang penjual foto. Hal inilah yang
menjadikan sesuatu bernilai benar atau salah bergantung pada kondisi dan sudut
pandang yang dipakai. Penilaian terhadap sesuatu hal dalam filsafat dilakukan
dengan melihat apakah sesuai atau tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam
kehidupan orang jawa, sesuai atau tidak sesuai dengan ruang dan waktu dapat
diartikan sebagai tata krama. Dalam ilmu matematika pun juga terdapat filsafat
ruang dan waktu yaitu geometri dan aljabar.