Pada perkuliahan filsafat ilmu tanggal
12 Desember 2017 kami diberikan wejangan terkait perjalanan kehidupan. Prof berkali-kali
mengulang istilah ojo nggege mongso yang
dalam falsafah Jawa bermakna “jangan mendahului Kuasa Tuhan”. Hal ini perlu ditanamkan pada diri bahwa sesuatu
terjadi sudah ada masanya masing-masing. Sebagai manusia kita tidak boleh
ceroboh atau tergesa-gesa dalam bertindak. Ada masa kita harus melewati sesuatu
secara bertahap. Ibarat naik tangga, untuk sampai ke tangga tertinggi kita perlu
menapaki tangga terendah terlebih dahulu. Demikian halya untuk membuat 1000
langkah kita perlu membuat langkah pertama. Pu ketika kita ditakdirkan untuk
mencapai suatu titik pada masa y kita tidak bisa mendahului takdir dengan
meminta sampai pada takdir tersebut pada masa x. Bahwa setiap yang ada dan yang
mungkin ada sudah diatur sedemikian sehingga agar saling bersinergi. Pada kesempatan
ini, Prof memberikan contoh kasus kehidupan beliau pribadi. Hingga sampai pada
tahap terpilihnya beliau menjadi Direktur Pascasarjana UNY tentu tidak serta
merta terjadi secara instan. Beliau benar-benar memulai karir dari dosen, ketua
jurusan, hingga menjadi profesor dan sekretaris senat, kemudian sempat kembali
berstatus hanya dosen biasa yang tidak lama kemudian atas hak prerogatif rektor
beliau ditunjuk sebagai direktur progrsam pascasarjana. Satu hal yang sangat
saya ingat dan saya pegang atas ucapan beliau hingga saat ini adalah ketika
beliau menyampaikan bahwa beliau tidak pernah menargetkan untuk jadi apapun
atau siapapun. Beliau hanya seorang manusia biasa yang selalu berusaha sungguh-sungguh
dalam melakukan setiap hal. Apabila yang dilakukan ternyata membawa dampak baik
dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas maka itulah buah daripada
kesungguhan beliau sehingga Allah ridho atas apa-apa yang diusahakan. Oleh
karena itu, sebagai calon generasi emas masa depan sudah semestinya kita terus
berkarya hingga nanti karya itulah yang akan berbicara dan menjelaskan siapa kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar