Tepat pada perkuliahan Filsafat
Ilmu di akhir pertemuan semester gasal tahun ajaran 2017/2018, mahasiswa
program studi magister pendidikan matematika angkatan 2017 mendapat kesempatan
untuk berdiskusi bersama direktur pascasarjana UNY. Berkaitan dengan peraturan terbaru
terkait yudisium yang mensyaratkan artikel bagian dari tesis terbit di jurnal
nasional terakreditasi atau terbit di jurnal internasional bereputasi atau dipresentasikan
dalam seminar internasional terindeks birokrasi berupaya sedemikian rupa untuk
memfasilitasi siswa dan dosen dalam mempublikasikan artikel ilmiah. Pada kesempatan ini bapak direktur menyampaikan
bahwasanya pada tahun 2018 UNY akan menyelenggarakan banyak seminar
internasional yang terindeks. Selain itu disediakan pula waktu untuk berdiskusi
dengan konsultan terkait penulisan artikel hingga cara menerbitkannya. Upaya
ini akan berdampak positif apabila mahasiswa mampu memanfaatkan betul
kesempatan dan waktu yang tersedia. Bapak direktur juga menyampaikan beberapa
hal yang berkenaan dengan persiapan publikasi artikel yaitu: penetapan judul
tesis dan pembimbing, timeline penulisan artikel publikasi, dan kemampuan
bahasa. Birokrasi menjadwalkan bahwasanya awal tahun 2018 diharapkan masing-masing
mahasiswa sudah memiliki judul tesi dan pembimbing. Selanjutnya mahasiswa dapat
mengatur dan membuat timeline penulisan artikel publikasi. Artikel yang dipublikasikan
dapat berupa studi awal dari tesis yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk
meminimalisir keterlambatan publikasi artikel ilmiah sehingga mahasiswa dapat
lulus tepat atau kurang dari 2 tahun. Terakhir disampaikan terkait kemampuan
bahasa yang perlu senantiasa diasah dan ditingkatkan mengingat bahasa adalah
jantung daripada komunikasi. Tanpa bahasa tiadalah seseorang mampu
berkomunikasi maupun mengkomunikasikan. Demikian sosialisasi penulisan artikel
ilmiah pada hari itu yang inshaaAllah bermanfaat bagi kita semua.
Selasa, 26 Desember 2017
Psikologi Spiritual: Ojo nggege mongso
Pada perkuliahan filsafat ilmu tanggal
12 Desember 2017 kami diberikan wejangan terkait perjalanan kehidupan. Prof berkali-kali
mengulang istilah ojo nggege mongso yang
dalam falsafah Jawa bermakna “jangan mendahului Kuasa Tuhan”. Hal ini perlu ditanamkan pada diri bahwa sesuatu
terjadi sudah ada masanya masing-masing. Sebagai manusia kita tidak boleh
ceroboh atau tergesa-gesa dalam bertindak. Ada masa kita harus melewati sesuatu
secara bertahap. Ibarat naik tangga, untuk sampai ke tangga tertinggi kita perlu
menapaki tangga terendah terlebih dahulu. Demikian halya untuk membuat 1000
langkah kita perlu membuat langkah pertama. Pu ketika kita ditakdirkan untuk
mencapai suatu titik pada masa y kita tidak bisa mendahului takdir dengan
meminta sampai pada takdir tersebut pada masa x. Bahwa setiap yang ada dan yang
mungkin ada sudah diatur sedemikian sehingga agar saling bersinergi. Pada kesempatan
ini, Prof memberikan contoh kasus kehidupan beliau pribadi. Hingga sampai pada
tahap terpilihnya beliau menjadi Direktur Pascasarjana UNY tentu tidak serta
merta terjadi secara instan. Beliau benar-benar memulai karir dari dosen, ketua
jurusan, hingga menjadi profesor dan sekretaris senat, kemudian sempat kembali
berstatus hanya dosen biasa yang tidak lama kemudian atas hak prerogatif rektor
beliau ditunjuk sebagai direktur progrsam pascasarjana. Satu hal yang sangat
saya ingat dan saya pegang atas ucapan beliau hingga saat ini adalah ketika
beliau menyampaikan bahwa beliau tidak pernah menargetkan untuk jadi apapun
atau siapapun. Beliau hanya seorang manusia biasa yang selalu berusaha sungguh-sungguh
dalam melakukan setiap hal. Apabila yang dilakukan ternyata membawa dampak baik
dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas maka itulah buah daripada
kesungguhan beliau sehingga Allah ridho atas apa-apa yang diusahakan. Oleh
karena itu, sebagai calon generasi emas masa depan sudah semestinya kita terus
berkarya hingga nanti karya itulah yang akan berbicara dan menjelaskan siapa kita.
Senin, 16 Oktober 2017
Refleksi perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan 1-4: Mata air kehidupan
Belajar adalah proses membentuk
pengetahuan yang berlangsung sepanjang hidup atau yang bisasa disebut sebagai long-life learning. Kesempatan belajar
di Program Pascasajana UNY merupakan hal yang saya tunggu-tunggu. Di kampus kehidupan
ini saya banyak belajar dari dosen-dosen yang luar biasa keren. Salah satunya
adalah Beliau, Prof. Dr. Marsigit, M.A. yang mengampu mata kuliah Filsafat
Ilmu. Metode mengajar Beliau saat ini masih sama dengan metode mengajar ketika
saya masih di tingkat sarjana. Suasana kelas dibuat sedemikian rupa sehingga
meminimalisir jarak antara mahasiswa dan dosen. Hal ini tentu membuat suasana diskusi
lebih hidup dan berlangsung dua arah.
Pada pertemuan awal, seperti
biasa dilakukan perkenalan mengingat banyak kawan kelas yang berasal dari luar
universitas UNY. Setiap mahasiswa diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri
dan menyebutkan daerah asal. Pada kesempatan ini Prof juga memperkenalkan diri di
hadapan kami semua. Utamanya filosofi dari nama beliau sendiri, Marsigit.
Layaknya planet Mars di angkasa, beliau senantiasa berusaha melangitkan potensi
dirinya. Sigit yang berarti tampan. Maka Marsigit berarti manusia tampan yang
berusaha melejitkan potensinya setinggi mungkin. Hal ini dapat dilihat betapa produktifnya
beliau dalam menulis dan berusaha menebar kebaikan untuk dunia melalui
tulisan-tulisannya. Kepada para mahasiswa dianjurkan untuk membaca artikel yang
beliau sudah sediakan untuk diakses secara gratis melalui laman:
powermathematics.blogspot.co.id.
Pada pertemuan kedua dan ketiga,
perkuliahan dimulai dengan tes jawab singkat yang berkaitan dengan
artikel-artikel yang beliau tulis. Cukup miris melihat hasil tes jawab singkat
kami. Kebanyakan dari kami mengalami kegagalan dalam tes jawab singkat
tersebut. Namun, Prof selalu menyemangati kami untuk senantiasa membaca,
membaca, dan membaca. Karena sejatinya salah dalam filsafat itu berarti benar. Benar
karena kami kurang membaca artikel sehingga tidak bisa menjawab soal tes dengan
baik. Oleh karena itu pada setiap akhir pertemuan, Beliau selalu menyemangati
kami untuk tidak lelah membaca. Bahwa dalam proses belajar itu memang
diperlukan ikhlas hati dan ikhlas pikir untuk memperoleh pengetahuan.
Pada pertemuan ke empat
dibahas beberapa pertanyaan mahasiswa mengenai filsafat. Salah satu pembahasan
mengenai orang malas dan orang rajin. Menurut pandangan filsafat, sebenar-benar
orang malas dalam kerajinannya dan rajin dalam kemalasannya. Bahwa rajin dan
malas adalah dua hal yang saling melengkapi dan tidak dapat dipandang secara
sepihak. Hal ini menjadikan pembelajaran bagi kita yang ingin belajar filsafat
bahwa filsafat itu holistic tidak dapat dimaknai secara parsial. Akhirnya, saya tutup refleksi perkuliahan filsafat ilmu ini dengan quote berikut ini:
"Jadilah seperti mata
air, bila dirimu air yang jernih, maka sekitarmu akan bersih. Tapi bila dirimu
kotor, sekitarmu juga ikut kotor" - Rudy Habibie.
Bahasamu Mencerminkan Duniamu
Seiring berkembangnya Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) informasi tersebar secara cepat dan tidak
terbatas. Setiap orang dengan mudah dapat berbagi informasi tentang peristiwa
di sekitarnya. Namun, tidak jarang informasi yang disebarkan diboncengi oleh
kepentingan pribadi maupun golongan. Akibatnya, banyak fenomena berita hoax
yang belum dapat dipercayai kebenarannya. Oleh karena itu pada pertemuan kelima
mata kuliah Filsafat Ilmu, Prof memberikan kuliah dengan tema perkembangan ilmu
pengetahuan dari waktu ke waktu. Hal ini dimaksudkan agar kami para mahasiswa
yang sedang terombang-ambing dalam mencari kebenaran sebuah ilmu dapat berbahasa
dengan bijak memilah dan memilih informasi. Lalu, bagaimanakah perkembangan
ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu?
Secara garis besar disampaikan
bahwa secara filosofis perkembangan ilmu pengetahuan dimulai dari zaman awal,
zaman modern, zaman pos modern, dan zaman pos pos modern.
Zaman awal
Ilmu pengetahuan mulai berkembang
pada masa Socrates (± 470 – 400 SM), Plato (428-348 SM) dan Aristoteles
(384-322 SM). Pemikiran Socrates lebih banyak menjadikan manusia sebagai objek
filsafatnya. Socrates telah menurunkan filsafat dari langit dan menyebarkannya
kepada umat untuk kebaikan dunia. Oleh karena itu, Socrates jarang membicarakan
tentang alam, karena menurut hebatnya “ada” nya alam merupakan kuasa Tuhan.
Socrates menurunkan ajaran ini kepada Plato. Plato menerangkan bahwa manusia berada
dalam dua dunia yaitu dunia pengalaman (Empirisme) yang bersifat tidak tetap
(Relativisme) dan dunia ide (Idealisme) yang bersifat tetap (Absolutisme). Menurut
Plato, dunia yang sesungguhnya (Realisme) adalah dunia ide. Oleh sebab itu,
filsafat Plato dikenal sebagai Idealisme bahwa kenyataan adalah bayangan dari dunia
ide yang abadi.
Aristoletes sebagai murid Plato
sering menentang idealisme Plato. Dalam hematnya, “ide” bukan terletak pada
dunia abadi (Absolutisme) melainkan pada kenyataan benda-benda itu sendiri (Realisme).
Lebih jauh disebutkan bahwa ide yang abstrak tidak dapat dinyatakan tanpa
materi, sedangkan materi pasti diwujudkan dalam bentuk yang nyata (konkret).
Hasil pemikirannya yang logis memberikan sumbangsih yang banyak dalam
perkembangan ilmu pengetahuan.
Pada abad pertengahan sekitar
12-13 M, muncul ajaran falsafi-teologis dari para Bapa Gereja. Ajaran ini ingin
memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari diri
manusia. Oleh karena itu mereka menganggap bahwa bumi adalah poros dari segala
kehidupan (Geosentrisme). Zaman ini sering dikenal sebagai zaman kegelapan. Pada
abad 14-15 M muncul seorang astronom bernama Nicolas Copernicus dari Polandia.
Astronom ini menemukan bahwa pusat dari peredaran segala benda langit adalah
matahari (Heliocentrisme). Temuan Coperninus ini bertentangan dengan otoritas
Gereja, akibatnya dia dihukum mati.
Zaman modern
Pada masa ini terjadi otoritas
kebenaran umat Kristen mengalami kehancuran. Lalu muncullah aliran rasionalisme,
empirisme, dan kritisme. Aliran Realisme dipelopori oleh Rene Descartes
(1596-1650 M). Kaum rasionalis ini percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada
dalam pikiran, sehingga ilmu pengetahuan bersifat analitik apriori (sudah ada
sebelum diketahui). Pelopor aliran empirisme adalah David Hume (1711-1776). Hume
merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa ilmu pengetahuan diperoleh
(sintetik) dari indera setelah mengalami kejadian (posteriori). Terakhir, aliran
kritisisme di pelopori oleh Imanuel Kant (1724-1804). Immanuel Kant mencoba
untuk mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang betentangan
tersebut. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh dan
salah separuh. Menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan
manusia tentang dunia, yaitu sintetik apriori.
Zaman pos modern
Berkaitan dengan filosofi
penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme
yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia
dapat dibagi kedalam tiga tahap, yaitu: teologis, metafisis, dan positif-ilmiah.
Bagi era pos modern pengetahuan hanya mungkin dengan menerapkan metode-metode
positif ilmiah, artinya setiap pemikiran hanya benar secara ilmiah apabila dapat
diuji dan dibuktikan dengan pengukuran-pengukuran yang jelas dan pasti (saintifik).
Pemikiran ini menyebabkan lahirnya fenomena Power Now yang menempatkan
kekuasaan Tuhan (absolut) di bawah kuasa positif-ilmiah manusia.
Zaman pos pos modern
Pada zaman pos pos modern Ilmu
pengetahuan adalah bahasa. Bahasamu mencerminkan dirimu, tulisanmu, pendapatmu,
pemikiranmu, sehingga sebenar-benar bahasamu adalah duniamu. Oleh karena itu, apabila
kamu ingin membangun dunia lebih baik maka mulailah dengan berbahasa yang benar,
jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Demikian, perkembangan ilmu
pengetahuan yang dimulai dari seorang guru Socrates kemudian berkembang dan
terus mengalami kemajuan hingga zaman pos pos modern. Bahwa ilmu pengetahuan
adalah bahasa yang mencerminkan dunia.
Selasa, 19 Juli 2016
Perangkat Pembelajaran pada Materi Geometri dengan Model Guided Inductive Inquiry untuk Siswa SMP Kelas VIII
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi. Salah satu bentuk perencanaan pembelajaran di sekolah adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP digunakan guru sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang diharapkan. Komponen RPP salah satunya adalah sumber belajar. Sumber belajar yang dapat digunakan antara lain Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Komponen lain yang ada dalam RPP yaitu metode pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran adalah model guided inductive inquiry. Model ini menempatkan siswa sebagai pemeran utama dalam kegiatan pembelajaran dengan melakukan kegiatan penemuan dan penelusuran pola dari kejadian khusus yang disediakan
oleh guru untuk digeneralisasikan. Berikut adalah RPP dan LKS dengan model guided inductive inquiry yang dapat digunakan sebagai pedoman dan bahan untuk pembelajaran geometri SMP kelas VIII.
Semoga bermanfaat :)
Berikut ini link RPP dan LKS:
RPP Dengan Model Guided Inductive Inquiry
LKS Dengan Model Guided Inductive Inquiry
oleh guru untuk digeneralisasikan. Berikut adalah RPP dan LKS dengan model guided inductive inquiry yang dapat digunakan sebagai pedoman dan bahan untuk pembelajaran geometri SMP kelas VIII.
Semoga bermanfaat :)
Berikut ini link RPP dan LKS:
RPP Dengan Model Guided Inductive Inquiry
LKS Dengan Model Guided Inductive Inquiry
Rabu, 13 Januari 2016
Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika: Jawaban dari soal-soal ujian Filsafat Pendidikan Matematika
Oleh: Vidiya Rachmawati_12313244012_P.Mat.Int.2012
1.
Jelaskan
apa yang dimaksud Ontologi Matematika, dan berilah contohnya.
Ross, DS (2003) menyatakan bahwa ada beberapa
pertanyaan ontologis dalam Filsafat Matematika: Apa asal objek matematika?
Dengan cara apa objek matematika ada? Apakah mereka selalu hadir sebagai
abstraksi 'Platonis', atau apakah mereka memerlukan pikiran untuk membawa
mereka ke dalam keberadaan? Dapatkah objek matematika ada tanpa adanya materi
atau hal-hal untuk menghitung ?
Objek matematika ada di dalam pikiran yang terbebas
dari ruang dan waktu. Hal ini sejalan dengan pendapat menurut banyak
filsuf, jika entitas tersebut ada maka mereka lakukan di luar ruang dan waktu,
dan mereka tidak memiliki kekuasaan kausal. Mereka sering disebut abstrak
sebagai lawan entitas konkret.
Dengan cara
mengadakan, objek matematika itu ada. Mengadakan adalah proses atau metode yang
selanjutnya disebut sebagai epistemologi, yaitu mengadakan objek matematika. Jika
kita menerima keberadaan objek matematika yang abstrak kemudian epistemologi
yang memadai matematika harus menjelaskan bagaimana kita bisa mengenal mereka;
tentu saja, bukti tampaknya menjadi sumber utama pembenaran untuk proposisi
matematika tetapi bukti tergantung pada aksioma dan pertanyaan tentang
bagaimana kita bisa tahu kebenaran dari aksioma tetap. Di bawah ini akan
djelaskan tentang penentuan prinsip pembuktian kebenaran oleh Hempel C.G.
Hempel C.G.
mengakui bahwa, dari hipotesis empiris dapat dimungkinkan untuk memperoleh
prediksi yang menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu tertentu, gejala yang
tampak tertentu yang ditentukan akan terjadi; kejadian yang sebenarnya dari
fenomena ini merupakan mengkonfirmasikan bukti. Hempel menambahkan bahwa untuk
menjadi sepenuhnya tepat, maka perlu untuk menentukan prinsip-prinsip logika
yang digunakan dalam bukti proposisi; prinsip-prinsip ini dapat dinyatakan
secara eksplisit dan jatuh ke dalam kalimat primitif atau dalil-dalil logika.
Oleh karena itu, setiap fakta bahwa kita dapat berasal dari aksioma kebutuhan tidak menjadi aksioma; sesuatu yang kita tidak dapat berasal dari aksioma dan yang kami juga tidak dapat memperoleh negasi mungkin cukup ditambahkan sebagai aksioma.
Hempel menyimpulkan bahwa dengan menggabungkan analisis aspek dari sistem Peano, tesis logisisme diterima bahwa Matematika merupakan cabang dari logika karena semua konsep matematika yaitu aritmatika, aljabar, dan analisis dapat didefinisikan dalam empat konsep logika murni dan semua teorema matematika dapat disimpulkan dari definisi tersebut dengan cara prinsip-prinsip logika.
Oleh karena itu, setiap fakta bahwa kita dapat berasal dari aksioma kebutuhan tidak menjadi aksioma; sesuatu yang kita tidak dapat berasal dari aksioma dan yang kami juga tidak dapat memperoleh negasi mungkin cukup ditambahkan sebagai aksioma.
Hempel menyimpulkan bahwa dengan menggabungkan analisis aspek dari sistem Peano, tesis logisisme diterima bahwa Matematika merupakan cabang dari logika karena semua konsep matematika yaitu aritmatika, aljabar, dan analisis dapat didefinisikan dalam empat konsep logika murni dan semua teorema matematika dapat disimpulkan dari definisi tersebut dengan cara prinsip-prinsip logika.
Jadi ontologi matematika adalah matematika
ada dalam pikiran yang terbebas dari ruang dan waktu. Matematika ada dari pemikiran tentang
abstraksi objek matematika. Selanjutnya
disebut sebagai objek pikir matematika.
Contoh objek pikir matematika adalah lingkaran, kubus, bilangan, operasi
hitung, dst.
Contoh:
3+4=7 hal ini menjadi benar apabila objek
matematika hanya ada dalam pikiran.
diakses pada 12 januari 2016 pada pukul 10:40
2.
Jelaskan
apa yang dimaksud Epistimologi Matematika, dan berilah contohnya.
Matematika adalah
tentang struktur pengalaman langsung dan perkembangan potensial tidak terbatas
urutan pengalaman seperti; melibatkan penciptaan kebenaran yang memiliki makna
objektif dalam yang laporan nya yang tidak dapat diartikan sebagai pertanyaan
tentang peristiwa yang semuanya akan terjadi di alam semesta deterministik
potensial tidak terbatas yang tidak benar atau salah dalam pengertian absolut.
Mungkin hal-hal di atas adalah sifat-sifat yang berguna yang bisa benar atau salah relatif terhadap sistem formal tertentu.
Hempel C.G. (2001) berpikir bahwa kebenaran matematika, bertentangan dengan hipotesis ilmu empiris, tidak memerlukan bukti faktual maupun pembenaran lain karena mereka jelas.
Namun, keberadaan dugaan matematika menunjukkan bahwa tidak semua kebenaran matematika dapat jelas dan bahkan jika diri bukti dikaitkan hanya dengan postulat dasar matematika.
Hempel C.G. mengklaim bahwa penilaian matematika seperti apa dapat dianggap sebagai jelas bersifat subjektif yang mereka dapat bervariasi dari orang ke orang dan tentu saja tidak dapat merupakan dasar yang cukup untuk keputusan untuk validitas tujuan proposisi matematika.
Sementara Shapiro merasakan bahwa kita belajar perseptual bahwa objek dan sistem objek individu menampilkan berbagai pola dan kita perlu tahu lebih banyak tentang epistemologi langkah penting dari perspektif tempat-sebagai-kantor, yang tidak memiliki komitmen yang abstrak, untuk bahwa tempat-sebagai-benda, yang dengan demikian berkomitmen.
Dia memandang bahwa objek matematika dapat diperkenalkan oleh abstraksi pada relasi ekivalen atas beberapa kelas sebelum entitas.
Shapiro menyebut sebuah mitra epistemologis itu, dengan meletakkan definisi implisit dan meyakinkan diri koherensi, kami berhasil mengacu pada struktur mendefinisikan.
Mungkin hal-hal di atas adalah sifat-sifat yang berguna yang bisa benar atau salah relatif terhadap sistem formal tertentu.
Hempel C.G. (2001) berpikir bahwa kebenaran matematika, bertentangan dengan hipotesis ilmu empiris, tidak memerlukan bukti faktual maupun pembenaran lain karena mereka jelas.
Namun, keberadaan dugaan matematika menunjukkan bahwa tidak semua kebenaran matematika dapat jelas dan bahkan jika diri bukti dikaitkan hanya dengan postulat dasar matematika.
Hempel C.G. mengklaim bahwa penilaian matematika seperti apa dapat dianggap sebagai jelas bersifat subjektif yang mereka dapat bervariasi dari orang ke orang dan tentu saja tidak dapat merupakan dasar yang cukup untuk keputusan untuk validitas tujuan proposisi matematika.
Sementara Shapiro merasakan bahwa kita belajar perseptual bahwa objek dan sistem objek individu menampilkan berbagai pola dan kita perlu tahu lebih banyak tentang epistemologi langkah penting dari perspektif tempat-sebagai-kantor, yang tidak memiliki komitmen yang abstrak, untuk bahwa tempat-sebagai-benda, yang dengan demikian berkomitmen.
Dia memandang bahwa objek matematika dapat diperkenalkan oleh abstraksi pada relasi ekivalen atas beberapa kelas sebelum entitas.
Shapiro menyebut sebuah mitra epistemologis itu, dengan meletakkan definisi implisit dan meyakinkan diri koherensi, kami berhasil mengacu pada struktur mendefinisikan.
Jadi epistimologi matematika adalah bidang
kajian filsafat yang menelaah dasar pengetahuan matematika, seperti asal,
hakikat, batas-batas, dan kebenaran pengetahuan beserta matematika sifat-sifat matematika yang
meliputi abstraksi, ruang, waktu, besaran, simbolik, bentuk, dan pola. Telaah
pengetahuan matematika dilakukan dengan langkah-langkah atau metode, contoh:
metode menterjemahkan dan diterjemahkan.
http://powermathematics.blogspot.co.id/2009/08/epistemology-of-mathematics.html diakses pada tanggal 12 januari 2016 pukul 10:45
3.
Jelaskan
apa yang dimaksud Aksiologi Matematika, dan berilah contohnya.
Aksiologi
membahas tentang nilai etik dan estetika pengetahuan. Menurut Hartman (1945)
menunjukkan bahwa nilai matematika memiliki empat dimensi: nilai maknanya,
nilai keunikannya, nilai tujuan dan nilai fungsinya. Lebih lanjut, ia menyarankan
bahwa keempat "Dimensi Nilai" selalu disebut sebagai konsep berikut: nilai
intrinsik, nilai ekstrinsik, dan nilai sistemik. Nilai tersebut erat kaitannya
dengan tujuan pengetahuan itu untuk apa.
Jadi Aksiologi matematika adalah nilai etik
dan estetika dalam mempelajari matematika, sehingga pengetahuan matematika
dapat digunakan untuk kebaikan.
Contoh: Menjamin keaslian karya tentang
pengetahuan matematika dan tidak melakukan tindak plagiarisme.
https://www.academia.edu/13357554/Philosophical_and_Theoretical_Ground_of_Mathematics_Education
diakses pada tanggal 12 januari 2016 pukul 10: 42
4.
Jelaskan
apa yang dimaksud Ontologi Pendidikan Matematika, dan berilah contohnya.
Ontologi merupakan bidang
kajian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat
manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak/peserta didik. Ontologi secara
praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Proses mengajar
merupakan salah satu usaha untuk membangun pendidikan.
Ontologi mengajar ada di balik adegan mengajar. Di balik adegan mengajar berarti sesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diamati secara langsung melalui indera kita.
Jadi ontologi mengajar hanya dipikirkan oleh pikiran kita. Jadi, itu adalah dalam pikiran Anda.
Dalam rangka untuk memahami Ontologi Pengajaran perlu menemukan arti dari istilah-istilah berikut:
Konsep, struktur, superserve, mengabdi, intuisi, apodiktis, ide, akal, empiris, penilaian, analitik, sintetik, abstraksi, idealisasi, arsitektonis, isomorfik, analog, kritis, nilai, ontologis, epistemologis, internal, eksternal, transenden, konstruktif, sebelum, a posteriori, sekolah, fakultas, batas, melampaui, subjektif, objektif, omnijective, karakter, kosong, determinisme, subjek, objek, predikat, benar, salah, koheren, koresponden, mutlak, relatif, fallibism, monisme, dualisme, pluralisme, formal, material, normatif, sebenarnya, potensi, teleologi, amphibol, ambivalen, kontradiksi, anomali, induksi, deduksi, hermeneutika, fenomenologi, nomena, mengembangkan, hologram, otonomi, parallogicism, idealisme, realisme, naturalisme, rasionalisme, analog, teleologi, kecelakaan, dinamis, kategori, penilaian, absolutisme, relativisme, prinsip, aksiologi, dunia, kosmologi, roh, jiwa, dimensi keempat, waktu, ruang, proposisi, kualitas, kuantitas, kesadaran, makna, definisi, orientasi, bertentangan, anomali , perubahan, yayasan, konsisten, koherensi, metafisika, epoche, fatalisme, progresif, utilitas, pragmatisme, idola, esse est percipi, persepsi, tanah, intrinsik, ekstrinsik, sistemik, pikiran, berpikir, paradoks, skema, antinomi, univocal, samar-samar , reflektif, usaha, tenaga, diarahkan, dibimbing, akal sehat, humanisme, spiritualisme, asumsi, pra-asumsi, formalisme, logicism, positivisme, comtemporary, modern, posmodern, renaisanse, Platonisme neo, platovism, gua platonis, etika, estetika, pengalaman, mimpi, terbatas, tak terbatas, kemunduran yang tak terbatas, mulai, berlangsung, kualitas, tunggal, ketelitian, validitas, keberlanjutan, dua intuisi kesatuan, kembar, mengeksploitasi, membuat, extacy, meditasi, jiwa, kritis, skeptis, alasan murni, alasan tidak murni , tugas, mengekspos, tujuan, naturalisme, langsung, instrumentalisme, hedonisme, nihilisme, substansi, existensialism, menjadi, menjadi, menjadi makhluk qua, menjadi qua memiliki, anti, konten, bingkai, pendekatan materi, pendekatan formal, brain storming, siklik , prinsip identitas, kompeten, sesuai, kesederhanaan, arsitektonis, logo, mitos, simbolik, misalnya, sempurna, konvergen, divergen, milik, kejelasan, vogue, mengalihkan perhatian, godaan, mengingat, holistik, sejarah, harmoni, gegenwishensaften, das sein, das sollen, naturwissensaften, prima causa, forma, bulying, premis, kesimpulan, penulis, di antara, sosial-konstruktivis, menganggur dalam, bergerak di dalam, menganggur luar, bergerak di luar, pseudo, pesan, bijaksana, terus, batas, batas , material, genesis, definisi, conjencture, konteks, artefak, genious, teori, praktis, aliran, besar, narasi, panggung, kehidupan setelah kehidupan, membuat, aksiomatik, sepadan, mengubah, listrik, enculture, imbeded, tanah, pencarian, hilang Link, terhubung, lihat, siap, terkait, memecah, berturut-turut, pertukaran, beban, wajib, memulai, ikuti, nuansa, suasana, antusias, berperilaku, keterampilan, pengalaman, pengetahuan, anekdot, silogisme, umum, universal, misalnya, Model , pahlawan, etnis, etnografi, memperpanjang, ruangan gelap, bayangan, cahaya, lilin, tangga, zona, proksimal, peran, mendominasi, gairah, prima facie, unik, lulus, berlalu, umur panjang, paradigma, berkomunikasi, wastafel, tunggal , beberapa, kronologi, garis waktu, tergantung, independen, efek, tanpa pandang bulu, dalam tujuan, aktualisasi, harga diri, bangga, kompetisi, berkolaborasi, global, tiang, langsung, mimpi, visi, kebebasan, pasang, menambahkan, ambigu, hanya, kebijaksanaan , proporsi, posisi, kemauan, tidak langsung, rekreasi, meyakinkan, perjuangan, kepercayaan, komitmen, terbuka, tertutup, berakhir
Pikirkan hal tersebut secara intensif dan ekstensif.
Ontologi mengajar ada di balik adegan mengajar. Di balik adegan mengajar berarti sesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diamati secara langsung melalui indera kita.
Jadi ontologi mengajar hanya dipikirkan oleh pikiran kita. Jadi, itu adalah dalam pikiran Anda.
Dalam rangka untuk memahami Ontologi Pengajaran perlu menemukan arti dari istilah-istilah berikut:
Konsep, struktur, superserve, mengabdi, intuisi, apodiktis, ide, akal, empiris, penilaian, analitik, sintetik, abstraksi, idealisasi, arsitektonis, isomorfik, analog, kritis, nilai, ontologis, epistemologis, internal, eksternal, transenden, konstruktif, sebelum, a posteriori, sekolah, fakultas, batas, melampaui, subjektif, objektif, omnijective, karakter, kosong, determinisme, subjek, objek, predikat, benar, salah, koheren, koresponden, mutlak, relatif, fallibism, monisme, dualisme, pluralisme, formal, material, normatif, sebenarnya, potensi, teleologi, amphibol, ambivalen, kontradiksi, anomali, induksi, deduksi, hermeneutika, fenomenologi, nomena, mengembangkan, hologram, otonomi, parallogicism, idealisme, realisme, naturalisme, rasionalisme, analog, teleologi, kecelakaan, dinamis, kategori, penilaian, absolutisme, relativisme, prinsip, aksiologi, dunia, kosmologi, roh, jiwa, dimensi keempat, waktu, ruang, proposisi, kualitas, kuantitas, kesadaran, makna, definisi, orientasi, bertentangan, anomali , perubahan, yayasan, konsisten, koherensi, metafisika, epoche, fatalisme, progresif, utilitas, pragmatisme, idola, esse est percipi, persepsi, tanah, intrinsik, ekstrinsik, sistemik, pikiran, berpikir, paradoks, skema, antinomi, univocal, samar-samar , reflektif, usaha, tenaga, diarahkan, dibimbing, akal sehat, humanisme, spiritualisme, asumsi, pra-asumsi, formalisme, logicism, positivisme, comtemporary, modern, posmodern, renaisanse, Platonisme neo, platovism, gua platonis, etika, estetika, pengalaman, mimpi, terbatas, tak terbatas, kemunduran yang tak terbatas, mulai, berlangsung, kualitas, tunggal, ketelitian, validitas, keberlanjutan, dua intuisi kesatuan, kembar, mengeksploitasi, membuat, extacy, meditasi, jiwa, kritis, skeptis, alasan murni, alasan tidak murni , tugas, mengekspos, tujuan, naturalisme, langsung, instrumentalisme, hedonisme, nihilisme, substansi, existensialism, menjadi, menjadi, menjadi makhluk qua, menjadi qua memiliki, anti, konten, bingkai, pendekatan materi, pendekatan formal, brain storming, siklik , prinsip identitas, kompeten, sesuai, kesederhanaan, arsitektonis, logo, mitos, simbolik, misalnya, sempurna, konvergen, divergen, milik, kejelasan, vogue, mengalihkan perhatian, godaan, mengingat, holistik, sejarah, harmoni, gegenwishensaften, das sein, das sollen, naturwissensaften, prima causa, forma, bulying, premis, kesimpulan, penulis, di antara, sosial-konstruktivis, menganggur dalam, bergerak di dalam, menganggur luar, bergerak di luar, pseudo, pesan, bijaksana, terus, batas, batas , material, genesis, definisi, conjencture, konteks, artefak, genious, teori, praktis, aliran, besar, narasi, panggung, kehidupan setelah kehidupan, membuat, aksiomatik, sepadan, mengubah, listrik, enculture, imbeded, tanah, pencarian, hilang Link, terhubung, lihat, siap, terkait, memecah, berturut-turut, pertukaran, beban, wajib, memulai, ikuti, nuansa, suasana, antusias, berperilaku, keterampilan, pengalaman, pengetahuan, anekdot, silogisme, umum, universal, misalnya, Model , pahlawan, etnis, etnografi, memperpanjang, ruangan gelap, bayangan, cahaya, lilin, tangga, zona, proksimal, peran, mendominasi, gairah, prima facie, unik, lulus, berlalu, umur panjang, paradigma, berkomunikasi, wastafel, tunggal , beberapa, kronologi, garis waktu, tergantung, independen, efek, tanpa pandang bulu, dalam tujuan, aktualisasi, harga diri, bangga, kompetisi, berkolaborasi, global, tiang, langsung, mimpi, visi, kebebasan, pasang, menambahkan, ambigu, hanya, kebijaksanaan , proporsi, posisi, kemauan, tidak langsung, rekreasi, meyakinkan, perjuangan, kepercayaan, komitmen, terbuka, tertutup, berakhir
Pikirkan hal tersebut secara intensif dan ekstensif.
Jadi ontologi
pendidikan matematika adalah pendidikan matematika itu ada. Salah satu usaha
membangun pendidikan matematika adalah mengajar matematika. Mengajar matematika
erat kaitannya dengan guru/dosen/ahli
matematika. Ontologi mengajar matematika ada di balik proses mengajar
matematika dan tidak terlihat. Artinya hakekat mengajar matematika adalah guru matematika
menyediakan segala kebutuhan siswa. Guru matematika sebagai fasilitator dan
pengarah pembelajaran matematika.
Contoh: Guru matematika
memfasilitasi siswa memahami konsep lingkaran melalui kegiatan penelusuran
pola.
http://powermathematics.blogspot.co.id/2012/10/elegi-menggapai-ontology-of-teaching.html
diakses pada tanggal 13 januari 2016 pukul 5:15
5.
Jelaskan
apa yang dimaksud Epistimologi Pendidikan Matematika, dan berilah contohnya.
Epistemologi pendidikan matematika adalah
segala sesuatu tentang metode, yang berkaitan dengan pertanyaan bagaimana mendidik
siswa belajar matematika. Fenomena yang terjadi dalam PBM matematika bagi
seorang guru adalah, bagaimana mengajarkan ilmu matematika sehingga mudah
dipahami siswa. Pertama guru harus menentukan apa yang
benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian guru harus menentukan alat dan
metode yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi siswa. Sebagai pendidik hendaknya tidak hanya mengetahui bagaimana
siswa memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana siswa belajar. Meliputi
pula pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk
memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan
pengetahuan tersebut.
Contoh: Mengetahui
nilai pi menggunakan metode induktif.
http://woktavia.blogspot.co.id/
diakses pada tanggal 13 januari 2016 pukul 9:16
6.
Jelaskan
apa yang dimaksud Aksiologi Pendidikan Matematika, dan berilah contohnya.
Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa
pada proses belajar mengajar di sekolah tujuannya tidak hanya pada kuantitas
pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang
dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi
keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk
kebaikan. Jadi dari aspek aksiologi, fenomena yang ada adalah kegiatan belajar
mengajar matematika di sekolah tidak hanya merupakan transfer ilmu pengetahuan
tetapi juga mengutamakan etik estetika dan juga sopan santun agar pengetahuan
matematika yang didapat digunakan untuk tujuan kebaikan.
Contoh: Mengajari siswa untuk jujur dalam
mengerjakan ulangan harian.
http://woktavia.blogspot.co.id/
diakses pada tanggal 13 januari 2016 pukul 9:16
7.
Jelaskan
Hermenitika Matematika, dan berilah contohnya.
Hermenitika adalah proses silaturahim. Hermenitika
terdiri dari dua unsur dasar yaitu garis lurus dan garis melingkar. Garis lurus
karena manusia tidak akan pernah mengulangi hal yang sama, semuanya
menembus ruang dan waktu. Manusia memiliki kesadaran dan keterampilan
dalam menembus ruang dan waktu.
Garis melingkar artinya berinteraksi, misal yang di atas guru, di
bawah murid, yang di atas kakak, yg di bawah adik, yang di atas akhirat, yang
di bawah dunia, yang di atas para filsuf, yang di bawah kita, dan seterusnya.
Dengan adanya hermeneutika, diharapkan kita dapat bekerja sama, memiliki
motivasi, dan kompetensi. Di dalam hermenitika ada yang rutin, misal Minggu
bertemu lagi dengan Minggu, bertemu lagi. Ada juga pengembangan diri, dalam
filsafat disebut mengadakan yang mungkin ada, membisakan yang mungkin bisa.
Yang mungkin ada meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Inilah konsep hermenitika hidup yang luar biasa.Selanjutnya
konsep ini disederhanakan sebagai matematika konkret, model konkret, model
formal, dan matematika formal. Matematika konkret adalah apapun yang kita
lihat. Jadi hermenitika matematika adalah proses silaturahim pengetahuan
matematika yang dapat kita lihat.Contoh:
Teorema, aksioma, lemma matematika. Keadaan identitas matematika. A=A. Model kubus, model balok, model bola, dst.
http://ekopramonojati-mathuny.blogspot.co.id/2013/01/hermeneutika_6.html diakses pada tanggal 13 januari 2016 pukul 9:20
8.
Jelaskan
Hermenitika Pendidikan Matematika, dan berilah contohnya.Menurut Tony Brown (1997: 176), dalam bukunya Mathematics
Education and Language: Interpreting Hermeneutics and Post-Structuralism, profesionalisme guru matematika dianggap
sebagai perspektif hermeneutik
aktivitas kelas memiliki
makna tertentu bagi
guru. Pertanyaan utama oleh
Brown adalah: Bagaimana
bisa guru bergerak
maju menawarkan deskripsi dari
kelas mereka yang menjadi penting dalam membentuk
praktek berikutnya dan penelitian ke dalamnya? Brown menyarankan sebagai “penulis profesional” di
mana guru dapat menyusun dan
menjelaskan praktek mereka. Guru, sebagai peneliti praktisi,
dapat membawa perubahan kelas melalui aksi
di kelas, tetapi juga sebagai penghasil tulisan reflektif. Pada intinya, guru berusaha untuk menunjukkan bagaimana
tulisan yang dihasilkan seperti bekerja sendiri
menjadi peneliti sebagai
aspek integral dari praktek dan berperan dalam proses refleksi diri perubahan praktisi yang
dipimpin (Brown, 1997: 178).
Brown menawarkan contoh
ekstensif bagaimana ini bisa
terjadi.Jadi Hermenitika pendidikan
matematika adalah proses silaturahim dalam pengetahuan terkait proses belajar
mengajar matematika. Proses silaturahim ini sangat bergantung pada guru.
Bahwasanya guru adalah fasilitator PBM di kelas. Guru bertindak sebagai
sutradara sekaligus pengamat PBM dengan siswa sebagai aktor utamanya. Dengan
demikian akan terjadi silaturahim yang baik antar guru-siswa, siswa-siswa,
siswa-bahan ajar, dst.
Contoh: Lesson study.
http://www.emis.de/journals/ZDM/zdm985r2.pdf
diakses pada tanggal 13 januari 2016
pukul 04:47
9.
Jelaskan
Phenomenologi Matematika, dan berilah contohnya.
Kesimpulannya,
dalam teks-teks Husserl satu dapat mengidentifikasi setidaknya tiga cara di
mana matematika diberikan: sebagian besar, 'matematika matematikawan',
diberikan sebagai murni formal, teori non-kontradiktif yang ditandai dengan
bukti keunikan. Kedua, beberapa bertepatan dengan kebenaran logicof, yaitu,
mengacu pada bagian dari matematika dan logika yang benar-benar berlaku untuk
dunia. Ketiga, beberapa matematika diberikan hanya sebagai kal-culation pada
simbol, permainan formalistik kosong. Selain itu, seperti yang saya onlyhinted
atas, Husserl juga membahas bukti yang terkait dengan broadestconception
penghakiman dan tingkat tata bahasa. Tingkat grammarand bukti yang terkait
dengan itu yang mensyaratkan di semua tingkat lain matematika; sehingga
mencirikan lapisan norma tertanam di semua matematika. Laporan dalam matematika
harus tata bahasa correct.What ini menunjukkan bahwa ketika menggambarkan
matematika dengan metode fenomenologis, kita tidak perlu menganggap bahwa
matematika adalah seluruh mon-litik, tetapi berbagai jenis cara pemberian dan himpunan
norma berkaitan dengan itu. Jadi matematika tidak hanya diberikan sebagai
konstitutif platonism tetapi juga dengan cara lain dan dengan himpunan lain
dari norma-norma untuk kebenaran. Tidak satupun yang menghalangi dan membedakan
kami bahkan himpunan lebih dari norma-norma yang berkaitan denganitu dari apa
yang dibahas di atas atau dari apa yang pernah dipikirkan oleh Husserl. Jadi, perbedaan
antara filsafat matematika biasanya perbedaan dalam norma-norma dianggap tepat
untuk matematika. Dengan kata lain, perbedaan antara pendekatan ini adalah
dalam ideal normatif apa matematika harus (klaim agak mirip dapat ditemukan di
[Tragesser, 1973, hal. 293]). Fenomenologi dapat membedakan dan membedakan
antara pendekatan ini. Karena itu, klarifikasi berbagai jenis pemahaman yang
terlibat dalam matematika.
Jadi fenomenologi matematika adalah
fenomena-fenomena pendekatan matematika yang berbeda-beda, bergantung pada
fungsi dari matematika tersebut. Pendekatan matematika murni tentu berbeda
dengan pendekatan matematika sekolah.
Contoh:
Pendekatan Iceberg di Indonesia yang digambarkan dengan gunung berapi. Gunung
mempunyai metafisik. Apa yang ada dibalik gunung? Dibalik gunung itu adalah
kekuasaan Tuhan, tetapi tiap orang memiliki pandangan yang berbeda akan hal
itu. Jika kita tidak siap dengan fenomena tersebut maka dapat menjadi bencana,
sedangkan jika kita siap maka dapat menjadi hiburan, begitu juga dengan
matematika. Jika kita mengajar matematika dalam keadaan siswa tidak siap, maka
akan menjadi bencana bagi siswa. Jika siswa dalam kondisi senang maka mereka
menjadi siap. Cara untuk menciptakan kesiapan itu antara lain berkomunikasi
dengan dunia siswa, kita harus menggunakan hal-hal yang dekat dengan siswa,
jangan sampai matematika murni yang mengurus pendidikan.
https://www.academia.edu/5528583/Husserls_Pluralistic_Phenomenology_of_Mathematics
diakses pada tanggal 13 januari 2016 pukul 05:07
10.
Jelaskan
Phenomenologi Pendidikan Matematika, dan berilah contohnya.Jadi
Fenomenologi pendidikan matematika adalah idealisasi dan abstraksi segala yang
ada dan yang mungkin ada kaitannya dengan PBM matematika di sekolah. Bahwa
matematika sekolah itu berbeda dengan
matematika formal. Jangan salah kaprah dalam menerapkan PBM matematika
di sekolah. Menurut Ebbutt dan Strakker (1995) matematika sekolah didefinisikan
sebagai: kegiatan penemuan, penelusuran pola, pemecahan masalah, dan
mengkomunikasikan.
Contoh:
Menurut Plato
segala hal di dunia ini adalah satu, yang lain hanyalah contoh. Cara mendidik
seorang platonism seperti itu, sangat keras. Kesalahan yang terjadi saat ini
adalah adanya kesalahan tentang pandangan terhadap siswa, yaitu siswa dianggap
sebagai tong kosong. Dalam matematika formal yang mengerti hanya guru, beda
dengan matematika sekolah, siswa
dapat mengerti, terkadang guru justru tidak mengerti. Jika pada siswa SD sudah
diajarkan Platonism,
dikhawatirkan akan berbahaya.
http://ekopramonojati-mathuny.blogspot.co.id/2013/01/hermeneutika_6.html diakses pada tanggal 13 januari 2016 pukul 9:20
Langganan:
Postingan (Atom)
