Belajar adalah proses membentuk
pengetahuan yang berlangsung sepanjang hidup atau yang bisasa disebut sebagai long-life learning. Kesempatan belajar
di Program Pascasajana UNY merupakan hal yang saya tunggu-tunggu. Di kampus kehidupan
ini saya banyak belajar dari dosen-dosen yang luar biasa keren. Salah satunya
adalah Beliau, Prof. Dr. Marsigit, M.A. yang mengampu mata kuliah Filsafat
Ilmu. Metode mengajar Beliau saat ini masih sama dengan metode mengajar ketika
saya masih di tingkat sarjana. Suasana kelas dibuat sedemikian rupa sehingga
meminimalisir jarak antara mahasiswa dan dosen. Hal ini tentu membuat suasana diskusi
lebih hidup dan berlangsung dua arah.
Pada pertemuan awal, seperti
biasa dilakukan perkenalan mengingat banyak kawan kelas yang berasal dari luar
universitas UNY. Setiap mahasiswa diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri
dan menyebutkan daerah asal. Pada kesempatan ini Prof juga memperkenalkan diri di
hadapan kami semua. Utamanya filosofi dari nama beliau sendiri, Marsigit.
Layaknya planet Mars di angkasa, beliau senantiasa berusaha melangitkan potensi
dirinya. Sigit yang berarti tampan. Maka Marsigit berarti manusia tampan yang
berusaha melejitkan potensinya setinggi mungkin. Hal ini dapat dilihat betapa produktifnya
beliau dalam menulis dan berusaha menebar kebaikan untuk dunia melalui
tulisan-tulisannya. Kepada para mahasiswa dianjurkan untuk membaca artikel yang
beliau sudah sediakan untuk diakses secara gratis melalui laman:
powermathematics.blogspot.co.id.
Pada pertemuan kedua dan ketiga,
perkuliahan dimulai dengan tes jawab singkat yang berkaitan dengan
artikel-artikel yang beliau tulis. Cukup miris melihat hasil tes jawab singkat
kami. Kebanyakan dari kami mengalami kegagalan dalam tes jawab singkat
tersebut. Namun, Prof selalu menyemangati kami untuk senantiasa membaca,
membaca, dan membaca. Karena sejatinya salah dalam filsafat itu berarti benar. Benar
karena kami kurang membaca artikel sehingga tidak bisa menjawab soal tes dengan
baik. Oleh karena itu pada setiap akhir pertemuan, Beliau selalu menyemangati
kami untuk tidak lelah membaca. Bahwa dalam proses belajar itu memang
diperlukan ikhlas hati dan ikhlas pikir untuk memperoleh pengetahuan.
Pada pertemuan ke empat
dibahas beberapa pertanyaan mahasiswa mengenai filsafat. Salah satu pembahasan
mengenai orang malas dan orang rajin. Menurut pandangan filsafat, sebenar-benar
orang malas dalam kerajinannya dan rajin dalam kemalasannya. Bahwa rajin dan
malas adalah dua hal yang saling melengkapi dan tidak dapat dipandang secara
sepihak. Hal ini menjadikan pembelajaran bagi kita yang ingin belajar filsafat
bahwa filsafat itu holistic tidak dapat dimaknai secara parsial. Akhirnya, saya tutup refleksi perkuliahan filsafat ilmu ini dengan quote berikut ini:
"Jadilah seperti mata
air, bila dirimu air yang jernih, maka sekitarmu akan bersih. Tapi bila dirimu
kotor, sekitarmu juga ikut kotor" - Rudy Habibie.