Pages

Senin, 14 Desember 2015

Elegi Pemberontakan Tes Jawab Singkat

Pada perkuliahan hari Selasa tanggal 8 Desember 2015 pukul 7.30 – 9.10 WIB, Prof. Marsigit, M.A. menyampaikan sebuah elegi sebagai berikut:

Elegi Pemberontakan Tes Jawab Singkat
Oleh Marsigit

Wahai Begawat, perkenankanlah boleh aku menyampaikan sesuatu padamu.
Aku ingin mengungkapkan.
Oh, sungguh engkau tidak mengerti penderitaanku, lengkaplah sudah penderitaanku. Ketika minggu yang lalu engkau tealh bersikap menurut saya sangat tidak adil, semena-mena, bahkan kejam kepada diriku.
Begawat: Oh, kenapa engkau bisa mengatakan berkata demikian?
Bukankah engkau masih ingat ketika engkau tidak membutuhkanku lagi. Maka aku engkau anggap sebagai sampah yang tidak berguna, engkau tendang, engkau pukul, engkau campakan, dan seakan-akan aku tidak mempunyai harga sama seklai di hadapan dirimu.
Begawat: Oh iya. Memang kejadian saat itu, saya seperti ini keadaannya. Karena engkau telah berubah menjadi mitos. Berbahaya itu. Maka sebenar-benar orang mencari ilmu wujudnya adalah mitos.
Apakah yang engkau maksud dengan mitos?
Begawat: Mitos itu adalah segala sesuatu yang bisa menjadi kebiasaan tanpa memikirkannya kembali. Ketahuilah bahwa jika saya bersikap demikian bukan semata-mata karena diriku, tetapi karena diri para cantrakaku. Karena apa, cantraka itu sudah belum untuk memitoskan diri.
Cantraka: Tetapi ingat, apakah engkau mengerti tentang kelebihan-kelebihan dan potensi-potensiku sebelum engkau bersikap seperti itu. Bahwa spesial tingkat itu punya manfaat punya banyak sekali kegunaan.
Begawat: Coba spesial tingkat terangkan pada saya apa saja kegunaan dan manfaatmu apa.
Spesial tingkat: Baiklah akan kusebutkan. Manfaatku antara lain adalah untuk yang mengadakan yang mungkin ada. Salah satunya itu. Disamping juga ingin mengetahui sebenarnya seberapa jauh pengetahuan-pengetahuan dan pengetahuan para cantraka.
Begawat: Baiklah kalo begitu. Lantas terus apa mau Anda?
Spesial tingkat: Saya minta supaya Begawat berlaku adil dan inilah bertentangan dengan sikap Beawat sendiri selama ini yang ingin bersikap adil, bijaksana, seimbang, tapi kenyataannya bahwa terjadi anarkisme.
Begawat: Oh enggak, enggak... Nggak terjadi anarkisme. Ya kalo Anda merasa demikian, ya silahkan Anda sudah bisa bertanya pada ornag lain.
Spesial tingkat: Yaudah kalo gitu, saya akan mengajukan pertanyaan kepada orangtua Berambut Putih. Wahai Orangtua Berambut Putih, saya merasa didzolimi sama Begawat. Oleh karena itu saya ingin minta pendapatmu sebetul-betulnya yang terjadi atau yang harus dilakukan oleh saya dan oleh Begawat itu seperti apa?
Orangtua Berambut Putih: Wahai Begawat...
Begawat: Yaaa...
Orangtua Berambut Putih: Aku telah melihat engkau telah melakukan yang yang kurang bijaksana di akhir karena telah berbuat dzolim dan berbuat partial dan berbuat sebagian tidak mencerminkan keseluruhan. Akhirnya menjadikan dunia itu disharmoni. Untuk itu jagalah supaya seimbang. Jagalah keseimbangan antara tesis dan anti-tesis, antara dua bentuk yang ada di dunia ini, antara normatif dan formalnya. Spesial tingkat itu adalah formalnya. Sedangkan sebenar-benar ilmu itu adalah normatif.
Maka demikian Begawat juga bertanya kepada Orangtua Berambut Putih.
Begawat: Kemudian bagaimana sebaiknya Orangtua Berambut Putih?
Orangtua Berambut Putih: Saran saya wahai Begawat, berilah kesempatan kalo masih diperlukan. Berilah kesempatan bagi Spesial tingkat kalo ia ingin menunjukkan kompetensinya kembali. Tanyakan saja.
Begawat: Oh, baiklah. Wahai Spesial tingkat apakah sebetulnya yang engkau mau itu?
Spesial tingkat: Saya melihat Cantraka itu masih membutuhkan diriku wahai Begawat.
Begawat: Tingkatnya seperti aoa?
Spesial tingkat: Ya masih banyak hal dari pengetahuan-pengetahuan filsafat, unsur-unsurnya, yang belum diadakan. Untuk di-mengadakan sebagai pengada. Terus kalo boleh saya mohon ijin minggu depan diadakan tes jawab singkat kembali.
Begawat: Oh... begitu..... Gitu wahai Orangtua Berambut Putih permintaannya sederhana.
Spesial tingkat: Ya sederhana tapi kan itu hidupku.
Begawat: Yasudah.... Wahai Cantraka......
Cantraka: Yaaa... Haha hehe haha hehe.
Begawat: Inti permintaan spesial tingkat minggu depan akan ada tes jawab singkat lagi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~*****************~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Senin, 28 September 2015

Refleksi Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A., pada hari Selasa tanggal 22 September 2015 pukul 07.30-09.10 WIB di Ruang PPG2


Ikhlas, Ruang, dan Waktu
Oleh Vidiya Rachmawati

Ilmu ikhlas menurut filsafat terbagi menjadi dua, yaitu ikhlas hati dan ikhlas pikir. Orang dapat melakukan aktivitasnya dnegan baik jika dia mempunyai ikhlas hati dan ikhlas pikir. Yaitu ketika logika dan perasaannya bisa saling menerima. Sebagai contoh ikhlas dalam mengikuti kuliah, ikhlas dalam mengerjakan tugas, ikhlas dalam menuntut ilmu, dan lain-lain. Dalam perkuliahan jika hati tidak mau menerima, ilmu pun tidak akan masuk dan meresap ke dalam otak. Dalam mengerjakan tugas, ketika hati tidak menolak mengerjakan maka tugas itu mungkin akan jadi tapi tidak begitu memuaskan. Lain halnya dengan tugas yang dikerjakan sepenuh hati, pasti hasilnya akan lebih baik. Dengan keihlasan manusia dapat bersyukur dan menerima apa yang ia peroleh dengan lapang dada. Manusia akan menyadari bahwa dirinya jauh dari sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah swt. Dalam ketidaksempurnaannya itulah manusia menjadi hidup untuk mendekati kesempurnaan.

Di dalam filsafat sesuatu bisa yang awalnya benar bisa menjadi salah dan sebaliknya. Sebagai contoh 3x4=5000 hal ini tentu salah menurut ilmu matematika, tetapi menjadi benar bagi seorang penjual foto. Hal inilah yang menjadikan sesuatu bernilai benar atau salah bergantung pada kondisi dan sudut pandang yang dipakai. Penilaian terhadap sesuatu hal dalam filsafat dilakukan dengan melihat apakah sesuai atau tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam kehidupan orang jawa, sesuai atau tidak sesuai dengan ruang dan waktu dapat diartikan sebagai tata krama. Dalam ilmu matematika pun juga terdapat filsafat ruang dan waktu yaitu geometri dan aljabar. 

Senin, 21 September 2015

Refleksi Perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A. pada tanggal 15 September 2015

Pengantar Kuliah Filsafat
Oleh Vidiya Rachmawati 

Komunikasi begitu penting dalam hal apapun. Seiring berjalannya waktu komunikasi berkembang begitu cepat. Salah satu bentuk variasi komunikasi adalah teknologi. Dengan teknologi semua menjadi mudah. Teknologi memungkinkan terjadinya diskusi dan bertukar informasi antar manusia di seluruh belahan dunia melalui jaringan internet dan software yang telah berkembang.
Komunikasi mendukung kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Dalam pembelajaran komunikasi berfungsi untuk menyalurkan materi dari sumber belajar kepada subjek pembelajaran. Dalam pembelajaran guru mempunyai peran sebagai fasilitator yang menyediakan sumber belajar. Sumber belajar bisa berupa buku, modul, LKS, materi dari internet, materi dari blog/website, dan sumber belajar lainnya. Siswa sebagai subjek pembelajaran melakukan aktivitas-aktivitas belajar, seperti mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Proses-proses yang dilakukan siswa berupa aktivitas di kelas disebut sebagai syntax pembelajaran. Hal ini dilakukan agar ilmu dan pengetahuan yang dibangun siswa dapat bertahan dalam jangka yang panjang.
Induk segala ilmu adalah filsafat. Filsafat itu merefleksikan yang awalnya tidak terpikirkan menjadi terpikirkan.  Semakin banyak berpikir semakin ditambah amalnya agar tidak terjadi kekacauan dalam hati dan pikiran. Sehebat-hebat kacau dalam pikiran adalah calon ilmu. Tetapi kacau dalam pikiran jangan sampai masuk ke dalam hati. Sebelum engkau mengembarakan pikiranmu tetapkanlah hatimu. Alat untuk belajar filsafat itu menggunakan analog. Maksud daripada hati adalah doa, keyakinan, dan ibadah.  Maksud daripada pikiran adalah urusan-urusan dunia.

“Jikalau engkau hanya pandai bicara tidak pernah bekerja maka engkau akan kosong. Dan orang yang bekerja tanpa berpikir akan buta. Maka belajar filsafat dan menerapkannya harapannya hidup kita tidak buta dan tidak kosong. Bacalah, niatkan dalam hati untuk belajar filsafat. Karena tiadalah orang belajar filsafat tanpa membaca.” Prof. Dr. Marsigit, M.A.

Senin, 22 Desember 2014

Refleksi Simulasi Pembelajaran


Dalam perkuliahan Methods of Mathematics Instruction oleh Pak Prof. Marsigit dilaksanakan simulasi pembelajaran yaitu melakukan Proses Belajar Mengajar sebagai persiapan untuk micro teaching dan PPL. Suasana kelas dibuat hampir mirip dengan keadaan di lapangan. Sebelumnya mahasiswa diminta untuk menyusun RPP dan LKS secara berkelompok. Mahasiswa juga diminta untuk menonton video lesson study yang diunduh dari link pada blog powermathematics.blogspot.com. Hasil dari diskusi ini lalu diwujudkan sebagai simulasi pembelajaran. Kegiatan ini menurut saya sangat bermanfaat karena mahasiswa diberi kesempatan untuk belajar dari pengalaman membuat langsung menyimulasikan pembelajaran. Mahasiswa dibimbing untuk membuat RPP dan LKS yang baik dan benar.
Simulasi belajar merupakan bentuk lesson study yang dikembangkan oleh Prof Marsigit pada perkuliahan ini. Beliau menerapkan lesson study dalam rangka pengembangan pembelajran yang inovatif. Bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Bahwa kelas bukan hanya satu-satunya tempat belajar. Bahwa buku bukan satu-satunya media belajar. Bahwa pengalaman oleh siswa adalah pelajaran yang sesungguhnya. Karena learning by doing akan membangun konsep dan mempertajam intuisi siswa.
Demikianlah menurut saya kuliah ini sangat bermanfaat karena saya mendapat banyak pelajaran dari perkuliahan ini terutama untuk menjadi guru yang inovatif. Karena salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan menjadi guru yang inovatif, kreatif, kritis, dan mempunyai  motivasi yang tinggi. 

Senin, 22 September 2014

Refleksi: Lesson Study sebagai Alternatif Proses Belajar Mengajar

Berdasarkan pemaparan dari Prof. Dr. Marsigit, M.A. pada perkuliahan Strategi Pembelajaran Matematika, Proses Belajar Mengajar (PBM) dibedakan menjadi dua yaitu Pembelajaran Faktual dan Pembelajaran Formal.

Pembelajaran Faktual didasarkan pada variasi interaksi yang meliputi budaya atau kebiasaan, konteks PBM, suasana belajar, media, dan subjek belajar. Guru menyusun RPP, LKS, dan media pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa di masing-masing daerah. Hal ini memungkinkan siswa dapat membangun konsep dengan baik melalui intuisinya. Dari awal siswa sudah dilibatkan untuk mencari tahu hingga memberikan kesimpulan materi yang dipelajari. Siswa belajar melaui kegiatan  dan kebiasaan. Guru memfasilitasi siswa dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan membahas kasus pada kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran formal didasarkan pada teori dan filsafat belajar mengajar. Teori-teori ini menghasilkan berbagai metode pembelajaran, yaitu problem based learning, inquiry, cooperative learning, RME, problem solving, Jigsaw, dan lain-lain. Pada pembelajaran ini, pemerintah sebagai subjek formal pendidikan nasional membuat aturan-aturan belajar, text book, LKS yang terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan di daerah. Hal ini menjadikan masalah karena kebutuhan siswa di masing-masing daerah berbeda satu sama lain.  Selain itu juga memberikan peluang penyelewengan dana pendidikan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya belajar merupakan sebuah kewajiban bagi siswa. Wajib membeli buku paket, wajib membeli LKS, dan "wajib-wajib" lainnya.


Lesson Study yang berupa pengembangan Human Resources Development (HRD) Guru diharapkan mampu menjadi alternatif solusi PBM di Indonesia. Lesson study menyebabkan PBM terus berkembang dinamis dan sesuai kebutuhan siswa. Hal ini dapat diwujudkan melalui pembelajaran inovatif. Seperti yang kita ketahui bahwa inovative learning menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Siswa aktif membangun konsep matematika melalui kegiatan yang diberikan oleh guru. Siswa diberi kebebasan diskusi dengan teman, bahkan mengakses informasi tambahan melalui internet.  Jadi guru bukan satu-satunya sumber belajar di kelas. 

Jumat, 16 Mei 2014

Tugas Aljabar: Sebuah Sandwich!

Menurut Marlo Warburton, tugas aljabar adalah sebuah sandwich. Dia memberikan soal sekaligus jawaban. Ibarat kata roti sebagai soal dan isi sandwich sebagai jawaban. Tugas siswa adalah membuat isi sandwich senikmat-nikmatnya. Dalam kelas aljabar Marlo Warbutton, tugas atau pekerjaan rumah bukan tentang mencari jawaban pada kunci jawaban di halaman belakang buku, tetapi tentang belajar matematika untuk mendapatkan jawabannya. Juga tentang mengingat ketika kamu tidak paham sama sekali dan sedikit membutuhkan bantuan orang lain. Pada awal tahun ajaran , kualitas dalam mengerjakan pekerjaan rumah lebih baik daripada kuantitas mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka akan menghadapi setengah banyak
masalah seperti biasa - sepuluh , bukan dua puluh tiga puluh. Siswa diharapkan untuk mengerjakan tugas dan memeriksa pekerjaan mereka sendiri. 
Marlo Warburton memberikan buku panduan sistematika cara mengerjakan tugas kepada siswanya. Dia berpesan kepada siswa untuk memahami dengan baik. Lalu menjelaskan urutan pengerjaannya. Jika beberapa siswa masih mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas aljabar, Marlo Warburton akan meninjau strategi pemecahan masalah dari soal yang ditanyakan, tetapi siswa tetap harus bertanggungjawab dengan solusi yang mereka temukan sendiri. Secara berkala siswa mengevaluasi pekerjaannya dengan rubrik yang sudah disediakan. 
Sebagian besar siswa menyukai sistem pembelajaran yang diterapkan Marlo Warburton. Meskipun mereka harus bekerja keras untuk menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Justru hal inilah yang mendorong siswa untuk menemukan dan membentuk konsep aljabar sendiri. Sehingga konsep-konsep aljabar akan tertanam dengan baik pada  memori mereka dalam jangka waktu yang cukup lama.

Sumber: D. Bruce Jackson, March 2014, Algebra Homework: A Sandwich!.http://www.ntcm.org, Mathematics Teacher, Volume 107, Issue 7, Page 528.

Kamis, 14 Maret 2013

Reflection of 3rd lesson


Mathematics is Silaturahim
Monday , March 4th 2013 was the forth meeting with Mr. Marsigit in English course. As usual the class began at 9.00 o’clock. Firstly we were praise to God by praying. Then Mr. Marsigit gave us vocabulary test, in order to measure how far our english knowledge is, especially the vocabulary improvement since we had met at first time.  Afterthat Mr. Marsigit asked all of us to collect our reflection of last meeting and gave it back to us. He wanted us to make some question about math, english, or anything which was writen in the back page of our last meeting reflection.  After we submitted back to him, he tried to answer such question from us.
Next session was answering question. Mr. Marsigit started to answer our question. The luckiest one was Alissa’s. The question, how as a student we must studying english in mathematics? According to Mr. Marsigit’s experiences and theory also in his explanation last Saturday, March 2nd in national seminar in Mathematics Competition Olympiad and Seminar. He said that there was a need for us to learn everything around us giving by the God. So he perceived something should be naturally learned, not to force. He thought problem was how the curriculum more humanize. So student could learn easily.
Mr. Marsigit also stated that the best way to learn english is to translate and to be translated, to reflect and to be reflected. That’s why he always fasilitated us in order that we were able to translate and we were able to reflect  our experience. Eventhough it was just small experience. Everything in the great therminology, called hermainitic.
Mr. Marsigit tried to identify  Indonesian term for a long time, and found the nearest meaning of hermainitic was silaturahim. He said that you silaturahim to everything,  about english, television, knowledge, encyclopedia, dictionary, native speaker, tourist, that fluency in speaking english, and also silaturahim in web blog. “Not only in trying to learn english but also to learn everything, math, physic, language, sociology, please you develope silaturahim” said Mr. Marsigit. Indeed, if we wanted to learn and understood society phenomena, we did silaturahim. Besides java tradition in developing silaturahim in moeslim great holid.
Go on the next question from Dian Permatasari, how to implement character education in teaching and learning process in the class? Based on Mr. Marsigit’s explanation, to implement character education in the class, we should understand  about the aspect of teaching learning math. One of teaching learning math was innovative approach. It combined various media to learn math, besides just hearing teacher then solving some problem.  Usually innovative approach using multimedia during learning process, like audio, video, gadget, web blog, and so on. This condition made us to learn math easily, because there were many activities. Such as writing, listening, talking, reading, etc, in order to make a reflection.
There were so many definitions of math, started from Aristoleles to house servant had their own idea about mathematics. Theoritically, the number of math is the same number of people that thinking of mathematics. Mr. Marsigit divided into two groups, formal mathematics or axiomatic and school mathematics or realistic.
As an innovative teacher we must realize that there were many mathematics. Not only one. For the Gods mathematics is beautiful. In the contrast elementary student thought that mathematics was very scary like ghost, extremely they thought that mathematics was hell. This traumatic feeling of mathematics was a big problem for elementary student. Mr. Marsigit said that we tried to dig up, to uncover, supporting by refference, to write, and to reflect everything.
The next question was Rydlo’s, why innovative approach is better than traditional one?  “It’s up to you,  every people has their own answer”, said Mr. Marsigit. Based on his theory last meeting, of course, he prefer innovative approach to traditional one.
Then countinued by Putri’s question, will there a game in this course? Mr. Marsigit answered that  next week would watch a video.
Next, Faqih’s question, why you ask the student to make reflection? According to Mr. Marsigit explaination about his reason. The best method was reflect. It was the highest order to thinking, because it’s very complete and complicated. He said that the reflection was belong to us, if you are sincere itself will increase of your english.
How to get meaningful learning was Wildanul’s question. Mr. Marsigit elaborated that to get meaningful learning, we did silaturahim, to traslate and to be translated, to reflect and to be reflected.
Then, go on to Dian puspita’s question, how to teach effectively?  Mr. Marsigit like how the student learn effectively, rather than to teach effectively.  “You to reflect, you need to act, you need to have  more and more reflection”,  said him. Mathematical translation was mite. The real one was how to facilitate in order to learn to reflect, and gave the student a chance.  
Next was Marissa’s question, what is the main idea of the school mathematic? Based on Mr. Marsigit explanation, for the youngest student, the children, knowledge was activity. The definition of mathematics is activity. It consisted of four, activity to looking for the pattern, activity to solve problem, activity to investigate, and activity to communication. Smart people were polite, able to adjust within situsasi any great mathematician if talking to a child elementary’s mathematics would define as activity.
            The last question was Shella’s, how to change the thinking of student if mathematic is difficult subject? Polite and courteous was a science, giving better facilities, miles accompanied it, will eventually have a positive effect if we were able to lead out well.